Tuesday, 4 August 2015

Cara Memegang Kamera

Salah satu problem umum bagi pemula fotografi adalah "camera shake" yang menyebabkan hasil gambar menjadi blur - biasanya karena kamera tidak benar-benar "diam" saat tombol shutter ditekan.
Sebabnya adalah cara yang umum dipakai oleh pemula dalam memegang kamera digitalnya dengan posisi lengan yang terlalu jauh dari badan saat memotret - bahkan sering dengan satu tangan. Semakin jauh tangan menjangkau keluar dari badan semakin besar resiko goyangan dan ketidakstabilan saat memencet tombol shutter.

Bagaimana Cara Memegang Kamera

Leading Line

Leading Line adalah salah satu konsep dalam komposisi di mana garis natural ataupun buatan digunakan untuk mengarahkan pandangan penonton dalam memandang sebuah foto. Leading line juga bisa untuk mengarahkan mata penonton ke objek utama dalam foto yang ingin ditonjolkan. Kamu bisa memakai leading line berbarengan dengan konsep komposisi lainnya semisal centering, the rule of third, atau point of view ataupun sebagai konsep utama yang berdiri sendiri. 
                                                                                                                             courtesy of www.leggnet.com

Monday, 3 August 2015

Rooftoping Photograper


Rooftop fotografer  telah mendapat perhatian besar dan ketenaran akhir-akhir ini karena seringkali harus memanjat ketinggian gedung yang ekstrim sambil memotret walau kadang-kadang sampai harus berdiri di pinggiran yang tidak stabil. Ternyata aksi stunt tersebut sudah dilakukan sejak hampir seabad yang lalu di tahun 1920 an.

Foto di atas (fotografer anonim) memperlihatkan seorang fotografer sedang memotret pemandangan jalanan kota New York sambil berdiri di pojok ketinggain sebuah gedung pencakar langit. Gambar tersebut diambil sekitar pertengahan tahun 1920 an.

Komposisi Foto

Dalam fotografi bukan hanya berapa jumlah fotomu yang dinilai – bagaimana caramu mengambil foto juga sangat penting. Komposisi yang buruk bisa membuat objek yang cantik menjadi kurang bermakna, sebaliknya objek yang “ditata” dalam komposisi yang benar bisa menghasilkan foto yang indah dari objek dan situasi yang biasa-biasa saja. Dengan alasan tadi berikut saya ulas 10 aturan komposisi fotografi yang bisa membuat fotomu menjadi luar biasa.

Jangan menganggap kamu harus hapal kesemua aturan komposisi dan menerapkannya dalam setiap fotomu. Melainkan mencoba belajar dan menerapkannya satu per satu dan menjadikannya sebuah kebiasaan. Selanjutnya perlahan kamu pasti akan tahu pada kondisi pemotretan seperti apa masing-masing aturan cocok digunakan.

Komposisi foto tidak seharusnya membuatmu rumit. Dalam dunia nyata kamu akan menghadapi beragam objek dan scene dan ini membutuhkan sebuah pendekatan open minded (pikiran terbuka). Apa yang pas untuk sebuah foto tidak musti cocok untuk kondisi lainnya.

Hal yang paling utama adalah memahami bagaimana semua keputusanmu mengenai komposisi dapat berpengaruh terhadap hasil foto dan bagaimana penonton memaknai hasil fotomu. Bagaimana kamu membingkai gambar, memilih focal length atau memposisikan orang bisa sangat menentukan.


Berikut 10 hal yang perlu kamu ketahui.

Sunday, 2 August 2015

Rule of Third

Rule of third barangkali adalah aturan paling populer dalam prinsip komposisi fotografi.
Ini adalah hal pertama yang dipelajari di kelas-kelas fotografi sebagai dasar membuat sebuah foto yang balance dan lebih menarik.

Ada kalanya memang sebuah aturan bisa dilanggar dan tidak berarti foto yang dihasilkannya harus menjadi tidak balance dan tidak menarik. Namun orang yang bijak bilang kamu harus selalu belajar terlebih dahulu mengenai aturan komposisi agar pada saat kamu melanggar salah satu aturan baku komposisi itu karena memang “rasa” mu mengatakan bahwa itu memang lebih baik. Bukan pelanggaran yang kamu bikin karena ketidaktahuan.

Apakah itu Rule of Third
Prinsip dasar dari rule of third adalah, bayangkan kamu membagi gambar dalam 3 bagian yang sama besar baik horisontal maupun vertikal seperti di bawah.

Grid


Saat kamu melihat layar LCD kamera atau ke dalam viefinder kamu akan melihat Grid (bisa diseting) sebagai alat bantu fotografer memposisikan objek foto ke dalam prinsip rule of third. Dengan grid tersebut kamu bisa memposisikan elemen-elemen penting dalam fotomu di titik perpotongan garis-garis grid atau di sepanjang garis-garis grid tadi.

Monday, 27 July 2015

Belajar Fotografi Otodidak

Latar Belakang

Belajar fotografi sendiri memang tidak mudah, tetapi bukan hal yang mustahil. Kuncinya adalah rajin mencari referensi dan mempraktekkannya. Sayangnya referensi fotografi di dunia maya meskipun banyak yang gratis sebagian besar berbahasa Inggris dan ini sering menjadi kendala dalam belajar. Semoga blog ini bisa menjadi salah satu referensi bagi  para pembelajar mandiri di bidang fotografi digital.
Fotografi digital saat ini sedang digandrungi di seluruh dunia. Harga kamera yang semakin terjangkau dan kemudahan dalam pengoperasian menarik minat lebih banyak orang awam untuk menjadikan fotografi sebagai hobi bahkan sumber penghasilan. Jaman di masa kamera masih memakai film rol sebagai media perekam, hanya orang-orang yang memang punya passion tinggi pada fotografi yang sanggup belajar dengan menghabiskan ber rol-rol film hanya untuk tahu bahwa hasilnya mengecewakan setelah film dicetak (membuang uang dan waktu). Hasil instan fotografi digitallah yang membuat belajar fotografi menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan lebih murah sehingga mendorong lebih banyak peminat.


Otodidak - tidak mudah tapi mungkin

Namun demikian banyak orang yang memulai belajar fotografi digital juga mengalami kebingungan yang sama dengan pemula fotografi era analog alih-alih merasa dimudahkan. Sebabnya terutama untuk seorang otodidak (pembelajar mandiri) tidak ada panduan apa saja yang mesti dia pelajari terlebih dahulu, dan bagaimana urutannya. Ada begitu banyak informasi yang membanjiri otaknya mulai dari bagaimana memilih peralatan  (kamera, lensa, aksesori), teknis pengoperasian peralatan, memahami eksposure dan komponen pembentuknya (ISO, shutter speed, apperture), dasar-dasar estetika sebuah foto (komposisi, karakter cahaya, teori warna), teknik post processing dll, dll.

Nah kamu sudah mulai pusing kan ?
Pasti ... jika tidak tahu dari mana mau memulai.

Sunday, 26 July 2015

Memilih Peralatan

BINGUNG MEMUTUSKAN

Awal memutuskan untuk belajar fotografi biasanya orang sudah terlebih dahulu disibukkan dengan urusan memilih gear. Bukannya tidak penting, tapi itu bukan yang utama. Toh kamu baru mulai belajar. Ada ungkapan “man behind the gun” yang terjemahan bebasnya secanggih apapun alat yang kau pakai tidak akan menghasilkan foto yang WOW ! kalau memang belum punya skill yang memadai.

Banyak orang yang bilang merek ini lebih top dari yang itu, punya kedalaman warna yang bagus dsb, dsb. Ingat, kamu baru belajar . Untuk saat ini semua itu informasi sampah. Merek apapun kamera yang kamu pegang saat ini saya jamin akan menghasilkan gambar yang entah terlalu terang (overexposed), terlalu gelap (under exposed) atau bahkan warnanya meleset. Dan jikapun kamu sudah berusaha keras membuat foto yang terekspose sempurna, saking kerasnya berusaha kamu lupa mengatur komposisi objek, atau lupa telah menggeser temperatur warna atau lupa menggeser tombol autofocus pada lensa sehingga gambar tidak kunjung focus. Akhirnya muncul keringat sebesar biji jagung . Jangan kuatir itulah yang namanya grogi, dan grogi terjadi pada semua pemula.
Saya tidak bilang memilih kamera yang bagus tidak penting, tapi jangan fokuskan upayamu terlalu keras pada hal ini sehingga kamu tidak pernah memulai belajar karena terlalu lama menimbang-nimbang. 



DUA HAL PENTING

Dua hal yang paling penting saat mau membeli kamera digital yang "serius" adalah pilihlah kamera yang mempunyai kemampuan berikut,
  • Interchangeable Lens     : memungkinkan lensa untuk dilepas dan ditukar jenisnya sesuai kebutuhan kreatif
  • Mode pengaturan kreatif : memungkinkan kita untuk mengatur secara manual ISO, Apperture, dan shutter speed atau kombinasi dari ketiganya.

Ada dua jenis teknologi kamera yang saat ini memenuhi 2 syarat di atas.
DSLR ( Digital Single Lens Reflex) dan Mirrorless . Dua-duanya sama baik. Keunggulan mirrorless system adalah bobotnya yang lebih ringan dari DSLR pada umumnya sehingga sering menjadi pilihan untuk kamera travelling. Namun bagi yang suka body dan grip yang mantap serta tahan banting DSLR adalah pilihan yang lebih tepat. Pilihlah kamera yang sesuai dengan budget keuanganmu saat ini sehingga kamu bisa segera memulai.

Pilihlah kamera yang sudah menyertakan lens kit dalam paket pembeliannya. Kabar gembiranya kebanyakan kamera entry level sudah menyertakan lens kit yang cukup memadai dengan range 18-50 mm (crop sensor).
Kenapa saya menyarankan kamu untuk membeli paket kamera + lens kit ? Percayalah, memilih lensa bagi pemula juga sama membingungkannya seperti memilih kamera. Jenis dan istilah-istilah lensa (wide angle, tele, fix, macro, fast lens dll dll dll) serta kegunaannya memerlukan satu topik tersendiri untuk membahasnya. Dan itu diluar kemampuanmu saat ini. Ingat one step at a time ! alias selangkah demi selangkah.

Pada tahap ini cukup kamera dan lensa yang kamu butuhkan. Kuasai itu dulu dengan baik dengan banyak praktek. Aksesori lain seperti tripod, flash eksternal, filter lensa, remote shutter akan perlu dan penting pada waktunya dan akan saya bahas di topik yang lain.




Saturday, 25 July 2015

Mengenal Eksposure dan Mode Pemotretan

Halooo ! Jadi kamu sudah punya kamera ditangan sekarang ?

Omong-omong mereknya apa ?
Ha ha ha benar gak penting mereknya apa. Yang jelas kamu pasti belum paham cara memakainya.

Perlu pembiasaan dan praktek, agar ibarat pemain biola sambil mata terpejam sekalipun jari-jemari bisa menari lincah pada dawai namun tetap bisa menghasilkan musik yang indah. Begitupun dengan fotografi, kamu harus mengenali menu-menu di kamera seperti mengenali punggung telapak tangan sendiri sehingga bisa cepat bereaksi terhadap perubahan yang terjadi di jendela bidik tanpa kehilangan momentum. Kalau tidak, BLAAMMM !!! momen yang bisa jadi hanya terjadi sekali seumur hidup lewat begitu saja.

Pastikan kamu membaca secara seksama User Manual (petunjuk pemakaian) yang disertakan dalam setiap produk. Atau jika kamu kebetulan membeli kamera second dan buku manualnya sudah hilang, coba download user manualnya dari website resmi produsen kameramu. Itulah indahnya era digital, semua ada dalam genggaman.

Pelajari dengan seksama tombol apa saja yang ada di kamera kamu, dan apa fungsinya. Untuk kamera yang lebih canggih kamu bahkan bisa memprogram tombol tertentu untuk menjalankan fungsi tertentu yang kamu mau. Fungsinya untuk mempercepat akses ke menu yang dibutuhkan saat memotret dalam kondisi waktu yang sempit alih-alih masuk ke dropdown menu kamera dan tersesat di cabang-cabang menunya sementara peristiwa penting di depan mata lolos dari bidikan.

Saya di sini tidak akan membahas letak dan fungsi spesifik masing-masing tombol. Masing-masing manufaktur dan bahkan setiap model dengan merek yang sama sekalipun punya lay out tombol yang berbeda satu sama lain jadi tidak mungkin untuk menjelaskan secara spesifik. Saya hanya akan membahas pondasi menguasai fotografi digital, untuk letak persisnya tombol-tombol di kameramu  berkaitan dengan topik yang dibahas silahkan mengacu ke buku manual masing-masing kamera. 
Bedakan, ini bukan blog tentang belajar mengoperasikan kamera, tapi ini blog tentang belajar fotografi.

Mengenal Metering Mode

Metering adalah cara kamera menentukan shutter speed dan aperture yang seharusnya, berdasar banyaknya cahaya yang masuk ke kamera dan sensitivitas sensor (ISO). Pada jaman sebelum kamera dilengkapi dengan lightmeter (era kamera analog), fotografer bergantung pada lighmeter portabel (handheld lightmeter) untuk menentukan eksposure yang optimal. Dan karena gambar terekam dalam rol film mereka tidak bisa melihat langsung hasil fotonya.

Dengan adanya refelected lightmeter built in di dalam kamera modern, fotografer terbantu untuk mengontrol eksposure dengan mudah dalam kondisi cahaya apapun. Pemahaman mengenai metering sangat critical bagi fotograferi. Dan itulah mengapa fotografer pemula sering gagal dalam mengambil gambar. Kalau tidak terlalu terang maka terlalu gelap karena belum memahami prinsip metering dengan baik.

Gambar 1

Mode metering yang paling umum dalam kamera digital saat ini adalah:
  •              Matrix Metering (Nikon), disebut juga Evaluatif Metering (Canon)
  •        Center Weighted Metering
  •        Spot Metering

Beberapa model kamera Canon menawarkan Partial Metering yang sebenarnya sama dengan Spot Metering namun dengan area tercover yang sedikit lebih besar (+/- 8% dari bagian pusat area viewfinder dibandingkan 3% saja pada spot metering).

Membaca Histogram

Sering sekali kesalahan yang umum dilakukan fotografer adalah melihat hasil foto melalui layar LCD di belakang kamera dan menilai terang gelapnya gambar hanya berdasarkan preview image. Kenapa ini merupakan kesalahan ?
Begini.
LCD kamera mempunyai tingkat kecerahan yang bisa disetel. Selain itu kemungkinan besar fotografer melihat preview gambar di LCD dalam kondisi terik sinar matahari atau malah di gelap gulita malam. Ini menyebabkan persepsi mereka terhadap gambar yang ada dalam LCD menjadi bias.
Kamu memang harus melihat preview gambarnya untuk menilai komposisi, depth of field, ketajaman, efek suatu gerakan seperti yang kamu inginkan. Namun untuk eksposure, kecuali kondisi ekstrim gambar yang terlalu gelap atau terlalu terang, bagaimana caramu untuk fine tune gambarmu jika matamu tidak bisa menilai secara akurat karena bias kondisi lingkungan? Jawabannya adalah HISTOGRAM. Beruntungnya kita karena pabrikan kamera digital telah membekali fitur histogram sebagai alat untuk mengevaluasi eksposure secara lebih akurat.

Bagaimana Membaca Histogram
Histogram pada dasarnya menunjukkan kecerahan (brightness) sebuah gambar.  Jika kamu mengambil sebuah gambar dan sebagian besar grafik mengumpul di sebelah kanan, itu artinya kamu sudah mengambil sebuah gambar high key yang mungkin terlihat overexposed. Kebalikannya, histogram dengan sebagian besar grafik data mengumpul di sisi kiri adalah gambar low key yang terlihat underexposed. Jika kamu mengambil gambar dengan kontras yang tinggi / high contrast scene (ada area yang sangat gelap dan ada area yang sangat gelap), kamu akan melihat grafik histogram berbentuk huruf U. Terdapat kemungkinan yang hampir tak terhingga terhadap kombinasi terang dan gelap yang bisa muncul dalam sebuah histogram.


  • A.    Bentuk histogram high contrast scene; gambar yang mengandung kontras gelap dan terang yang tinggi. Perhatikan bentuknya tinggi di sisi kanan dan kiri serta cekung di tengah seperti membentuk huruf U.
  • B.    Bentuk histogram high key scene; gambar yang sebagian besar terang. Namun tidak terlihat ada bagian grafik yang menempel di sisi paling kanan sehingga tidak ada pixel yang white clipped.
  • C.    Bentuk histogram low key scene; gambar sebagian besar gelap, ada black clipped ditandai dengan high spike (puncak grafik yang tinggi) yang menempel di sisi paling kiri. Dan ada sedikit white clipped di sisi kanan.
  • D.   Bentuk histogram ideal; gambar sebagian besar terdiri dari midtone dengan bagian gelap dan terang yang seimbang. Namun kamu akan belajar nanti bahwa “ideal” adalah subjektif dan sangat bergantung kondisi scene.