Saturday, 25 July 2015

Mengenal Metering Mode

Metering adalah cara kamera menentukan shutter speed dan aperture yang seharusnya, berdasar banyaknya cahaya yang masuk ke kamera dan sensitivitas sensor (ISO). Pada jaman sebelum kamera dilengkapi dengan lightmeter (era kamera analog), fotografer bergantung pada lighmeter portabel (handheld lightmeter) untuk menentukan eksposure yang optimal. Dan karena gambar terekam dalam rol film mereka tidak bisa melihat langsung hasil fotonya.

Dengan adanya refelected lightmeter built in di dalam kamera modern, fotografer terbantu untuk mengontrol eksposure dengan mudah dalam kondisi cahaya apapun. Pemahaman mengenai metering sangat critical bagi fotograferi. Dan itulah mengapa fotografer pemula sering gagal dalam mengambil gambar. Kalau tidak terlalu terang maka terlalu gelap karena belum memahami prinsip metering dengan baik.

Gambar 1

Mode metering yang paling umum dalam kamera digital saat ini adalah:
  •              Matrix Metering (Nikon), disebut juga Evaluatif Metering (Canon)
  •        Center Weighted Metering
  •        Spot Metering

Beberapa model kamera Canon menawarkan Partial Metering yang sebenarnya sama dengan Spot Metering namun dengan area tercover yang sedikit lebih besar (+/- 8% dari bagian pusat area viewfinder dibandingkan 3% saja pada spot metering).


  
Kamu dapat melihat bagaimana metering bekerja saat memilih mode pemotretan manual.

Gambar 2
Indikator Eksposure


Jika kamu arahkan kamera ke tempat yang sangat gelap maka indikator akan bergeser ke sisi kiri    (“-“) menunjukkan tidak ada cukup cahaya untuk direkam, dan jika kamu arahkan kamera ke tempat yang sangat terang indikator akan bergeser ke sisi kanan (“+”) menunjukkan terlalu banyak cahaya yang masuk ke kamera. Sehingga kamu perlu menseting shutter speedmu, atau ISO, atau aperture agar jarum indikator kembali ke titik tengah (“0”).
Kamera metering tidak hany berguna saat memakai mode manual eksposure. Saat kamu meilih Aperture Priority, Shutter Priority kamera akan memilih setting yang sesuai berdasar yang terbaca oleh lightmeter.

Problem Metering
Kamera metering bekerja dengan efektif saat pencahayaan merata. Namun akan menjadi problem bagi lightmeter apabila ada beberapa objek dengan perbedaan tingkat dan intensitas cahaya. Contohnya jika kita memfoto langit biru tanpa ada matahari dan awan dalam satu frame maka gambar akan terekspose dengan benar karena hanya ada satu jenis tingkat pencahayaan. Namun jika ada awan masuk dalam frame lightmeter sekarang harus mengevaluasi tingkat kecerahan awan dibandingkan tingkat kecerahan langit untuk mengkalkulasi tingkat eksposure yang pas. Mungkin kamera meter akan mencoba menaikkan sedikit tingkat kecerahan langitnya agar awan terkespose dengan benar. Bagaimana jika ditambahkan sebuah gunung dalam frame yang sama? Akan semakin rumit bagi lightmeter untuk menentukan tingkat eksposure yang pas agar semua objek bisa ditampilkan dengan eksposure yang pas.
Untuk situasi pemotretan yang rumit seperti itulah Metering Mode hadir memberikan keleluasaan bagi fotografer untuk mengontrol bagaimana lightmeter bereaksi secara tepat terhadap problem pencahayaan yang ada.

Matrix / Evaluative Metering
Matrix metering atau evaluatif metering adalah mode default pada kebanyakan DSLR. Cara kerjanya yaitu dengan membagi frame menjadi multi zona, yang kemudian masing-masing dianalisa terhadap tonal gelap dan terang. Satu dari faktor penting yang menjadi pertimbangan algoritma lightmeter selain warna, jarak kamera ke objek, highlight, dst adalah di mana titik fokus kamera ditempatkan. Setelah masing-masing zona dikalkulasi, sistem metering lalu melihat ke mana fokus kamera diarahkan dan memprioritaskannya terhadap zona yang lain. Ada banyak variabel lain yang dipertimbangkan dalam algoritma perhitungan yang berbeda antara satu manufaktur dan yang lain. Nikon contohnya juga membandingkan data gambar terhadap ribuan database foto sebagai landasan perhitungan eksposurenya Mode ini cocok untuk foto portrait dengan kondisi backlit dengan cahaya yang  merata.
                                       
                                Gambar 3    courtesy of www.fotographyz.com

Area evalusi metering mode (abu-abu)


Center Weighted Metering
Memakai keseluruhan frame untuk menentukan tingkat eksposure tidaklah selalu memungkinkan. Bagaimana jika kamu ingin mengambil gambar foto close up kepala manusia dengan matahari bersinar terik di belakangnya? Kondisi seperti inilah yang cocok untuk center weighted metering. Center weighted mengevaluasi kuantitas cahaya di pusat frame dan sekitarnya dan mengabaikan sudut-sudut frame. Dibandingkan matrix metering, center weighted mengabaikan titik fokus yang dipilih dan hanya mempertimbangkan bagian tengah frame.
Pakailah mode ini jika kamu ingin memprioritaskan bagian tengah frame seperti headshot (foto portrait kepala manuasia) dengan matahari di belakangnya, maka mode ini akan mengekspose muka objek dengan baik walaupun mungkin area di luar itu menjadi terlalu overekspose.
  
Spot Metering
Spot metering hanya mengevaluasi area di pusat frame sekitar 3.5% keseluruhan luas frame dan mengabaikan yang lain. Mode ini cocok untuk memfoto objek yang porsinya relatif kecil di dalam frame sehingga kamu butuh sampel zone yang relatif kecil untuk dievaluasi agar mendapatkan eksposure yang pas. Saya juga sering mengaplikasikan spot metering untuk fotografi landscape terutama untuk menghitung lebar dynamic range suatu scene - antara bagian paling terang dan bagian paling gelap - sehingga bisa untuk menentukan filter Grad ND apa yang musti saya pasang untuk menjinakkan langit.

Partial Metering sama dengan Spot Metering namun mengcover area yang sedikit lebih besar (8%).

Cobalah berlatih mengambil foto seseorang yang disinari cahaya matahari dari belakang. Dengan posisi yang persis sama gunakan 4 metering mode secara bergantian dan lperhatikan perbedaan hasilnya.

Kata Kunci
Metering, Matrix metering, Center weighted metering, Spot metering, Partial Metering



No comments:

Post a Comment