Saturday, 25 July 2015

Mengenal Eksposure dan Mode Pemotretan

Halooo ! Jadi kamu sudah punya kamera ditangan sekarang ?

Omong-omong mereknya apa ?
Ha ha ha benar gak penting mereknya apa. Yang jelas kamu pasti belum paham cara memakainya.

Perlu pembiasaan dan praktek, agar ibarat pemain biola sambil mata terpejam sekalipun jari-jemari bisa menari lincah pada dawai namun tetap bisa menghasilkan musik yang indah. Begitupun dengan fotografi, kamu harus mengenali menu-menu di kamera seperti mengenali punggung telapak tangan sendiri sehingga bisa cepat bereaksi terhadap perubahan yang terjadi di jendela bidik tanpa kehilangan momentum. Kalau tidak, BLAAMMM !!! momen yang bisa jadi hanya terjadi sekali seumur hidup lewat begitu saja.

Pastikan kamu membaca secara seksama User Manual (petunjuk pemakaian) yang disertakan dalam setiap produk. Atau jika kamu kebetulan membeli kamera second dan buku manualnya sudah hilang, coba download user manualnya dari website resmi produsen kameramu. Itulah indahnya era digital, semua ada dalam genggaman.

Pelajari dengan seksama tombol apa saja yang ada di kamera kamu, dan apa fungsinya. Untuk kamera yang lebih canggih kamu bahkan bisa memprogram tombol tertentu untuk menjalankan fungsi tertentu yang kamu mau. Fungsinya untuk mempercepat akses ke menu yang dibutuhkan saat memotret dalam kondisi waktu yang sempit alih-alih masuk ke dropdown menu kamera dan tersesat di cabang-cabang menunya sementara peristiwa penting di depan mata lolos dari bidikan.

Saya di sini tidak akan membahas letak dan fungsi spesifik masing-masing tombol. Masing-masing manufaktur dan bahkan setiap model dengan merek yang sama sekalipun punya lay out tombol yang berbeda satu sama lain jadi tidak mungkin untuk menjelaskan secara spesifik. Saya hanya akan membahas pondasi menguasai fotografi digital, untuk letak persisnya tombol-tombol di kameramu  berkaitan dengan topik yang dibahas silahkan mengacu ke buku manual masing-masing kamera. 
Bedakan, ini bukan blog tentang belajar mengoperasikan kamera, tapi ini blog tentang belajar fotografi.


Segitiga Eksposure

Sebelum belajar tentang mode pemotretan kamu harus tahu apa itu segitiga eksposure. Segitiga eksposure atau triangle of exposure bukanlah versi lain segitiga bermuda yang akan menelan hilang kapal yang berlayar di atasnya. Itu adalah istilah untuk tiga komponen penting pembentuk eksposure : aperture, ISO, shutter speed. Hewan apa pula itu ? Mari kita bahas satu per satu.
  • Aperture adalah lubang atau bukaan di dalam lensa yang mengontrol seberapa banyak cahaya masuk dan diteruskan ke dalam sensor kamera. Lambang yang dipakai adalah f/x (f/1.2, f/2, f/4 dst). Semakin besar bukaan lensa (nilai pembagi makin kecil) maka cahaya yang masuk akan makin banyak dan begitu juga sebaliknya.
  • ISO adalah tingkat sensivisitas sensor kamera terhadap cahaya yang ditangkapnya. Semakin rendah ISO maka sensor semakin tidak sensitif terhadap cahaya, sebaliknya semakin tinggi nilai ISO maka sensor menjadi semakin sensitif terhadap cahaya.
  • Shutter speed, shutter adalah semacam tirai di depan sensor kamera yang akan membuka pada kecepatan tertentu (shutter speed) saat tombol kamera ditekan. Pada saat itulah cahaya akan masuk dan direkam oleh sensor kamera. Semakin cepat shutter membuka maka cahaya yang masuk semakin sedikit dan gerakan terekam semakin 
Kegunaan masing-masing komponen segitiga eksposure dalam menghasilkan efek-efek artistik fotografi akan dijelaskan lebih lanjut.

Grafik Ilustrasi komponen segitiga eksposure

Bagi pemula memahami aperture, ISO dan shutter speed serta efek yang dihasilkannya untuk variasi nilai yang dipilih pasti sangat membingungkan. Di bawah adalah ilustrasi sederhana untuk memudahkan pemahaman efek pemilihan nilai ISO, shutter speed, dan aperture terhadap hasil foto.  Pada Gambar 1, angka yang saya cantumkan bukanlah skala asli yang tercantum di dalam menu kamera, itu hanya ilustrasi urutan penulisan dari kiri ke kanan di dalam menu kamera dan korelasinya terhadap tingkat gelap dan terangnya hasil foto (perhatikan gradasi warna pada garis tebal dengan panah di kedua ujungnya).

Waspada ! Efek pemilihan ISO berbeda dari dua komponen lainnya. Untuk  aperture dan shutter speed semakin ke kiri angka yang kita pilih maka semakin terang gambar yang dihasilkan, sedangkan  semakin ke kanan angka yang kita pilih semakin gelap gambar yang dihasilkan. Untuk ISO hal sebaliknya yang terjadi.

       Gambar 1


Gambar 2 adalah ilustrasi efek artistik yang bisa dihasilkan dengan memainkan nilai komponen segitiga eksposure (ISO, shutter speed, dan aperture).
ISO             :     pada kondisi pencahayaan yang gelap maka kita perlu menaikkan angka ISO (skala  semakin ke kanan) agar sensor kamera lebih peka terhadap cahaya. Maksudnya peka adalah, hanya dengan pencahayaan yang minim gambar bisa tetap terekam dengan jelas. Kelemahannya, dengan menaikkan nilai ISO maka akan semakin memunculkan noise (bintik-bintik) pada foto yang dihasilkan. Namun dengan teknologi kamera digital yang semakin berkembang, sensor digital semakin baik dalam meredam noise. Begitupun software pengolahan gambar juga bisa cukup baik mengurangi noise sampai level tertentu. Kamu hanya perlu mencari tahu pada ISO berapa batas kemampuan kamera kamu untuk merekam gambar dengan noise yang masih bisa diterima.

Aperture        : aperture berpengaruh terhadap depth of filed  (DOF) atau terjemahan bebasnya adalah ruang tajam. Semakin besar aperture (makin besar bukaan lensa, semakin ke kiri nilai aperture dalam skala menu kamera) maka DOF semakin sempit. Semakin kecil aperture berlaku hal yang sebaliknya. Gambaran mudahnya seperti ini : kamu memotret 10 orang yang berbaris dari depan ke belakang. Dengan aperture besar (f/2.8 misalnya) kamu fokuskan kamera pada orang yang berdiri paling depan. Hasilnya orang yang paling depan akan terlihat tajam, orang ke 2 sedikit kabur, orang ke 3 makin kabur begitu seterusnya semakin jauh maka gambar orangnya semakin kabur. Sebaliknya dengan aperture kecil (f/16) misalnya, dengan fokus yang sama pada orang paling depan kamu akan mendapatkan gambar yang relatif sama tajamnya dari orang ke 1 sampai orang  paling belakang yang ke 10.

Shutter speed  : shutter speed secara kreatif dan artistik dipakai untuk membekukan gerakan (speed tinggi) atau sebaliknya dipakai untuk menampilkan kesan  pergerakan sebuah benda (speed lambat). Dalam ilustrasi gambar 2 diperlihatkan dengan pemilihan speed 1/125 gambar orang naik sepeda terekam tajam seolah waktu sedang dibekukan. Namun dengan speed yang semakin rendah gambar menjadi berbayang seolah memiliki trail / jejak.
                                                               
                                        Gambar 2        courtesy of www.petapixel.com  

Mode Pemotretan

Setelah paham apa itu segitiga eksposure dan komponen pembentuknya kamu akan lebih mudah memahami pilihan mode pemotretan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan pemotretan.
Beberapa mode pemotretan yang utama atau biasanya dikelompokkan ke dalam creative mode adalah Av, Tv, M (Canon), A, S, M (Nikon). Pemilihan mode ini menyesuaikan dengan kebutuhan kreatif sang fotografer. Sengaja saya tidak membahas mode full automatic yang biasanya ada di entry level kamera (mode sport, landscape, portrait, macro dll). Mode full automatic membuat kamera canggihmu tidak ada bedanya dengan kamera point and shoot, membuatmu malas dan tidak kreatif.


Av/A ( Aperture priority)
Dalam mode ini fotografer menentukan aperture yang akan dipakai selanjutnya kameralah yang akan menentukan shutter speed yang sesuai dengan kondisi pemotretan yang ada (ISO diset terlebih dahulu).

                                         Gambar 3    courtesy of  www.deviantart.com

Contoh gambar bunga di atas fotografer memilih nilai aperture untuk mengontrol DOF sesuai efek artistik yang ingin dicapainya, selanjutnya kameralah yang bertanggungjawab untuk menentukan nilai shutter speed yang sesuai. Semakin besar aperture objek semakin terisolasi dan tampak menonjol dari lingkungannya, semakin kecil aperture semua detail tampak jelas sehingga objek foto kurang menonjol.
           
Tv/S (Time value / shutter priority)
Dalam mode ini fotografer memilih shutter speed yang diinginkan dan membiarkan kamera memilihkan aperture yang sesuai kondisi pemotretan untuk mendapatkan eksposure yang pas. Mode ini dipakai saat fotografer ingin mengontrol hasil foto sebuah benda yang bergerak.
                                                           
                                         Gambar 4       courtesy www.thinkhub.org


Dalam contoh gambar di atas, jika ingin membekukan gerak sebuah benda maka shutter speed harus dipilih yang  tinggi, sebaliknya jika yang ingin ditangkap adalah kesan sebuah benda yang bergerak maka shutter speed harus disetting rendah. 

M (Manual exposure)
Mode manual exposure adalah mode yang hampir sama dengan Av dan Tv, namun berbeda dengan kedua mode semi otomatis tadi. Dalam manual exposure mode fotografer diberi kebebasan untuk memilih baik aperture maupun shutter speed sekaligus. Kamera tidak akan secara otomatis mengatur exposure yang sesuai seperti dalam mode Av dan Tv, walaupun kamu tetap akan dipandu untuk mendapatkan exposure yang sesuai melalui metering system.

Baiklah saya akan coba jelaskan cara kerjanya.
Setelah kamu memutuskan untuk memakai Manual Exposure kamu harus memutuskan mana yang lebih penting antara aperture atau shutter speed dalam situasi yang sedang kamu hadapi: ruang tajam (seberapa tajam objek dan lingkungannya terekam), ataukah durasi exposure (bagaimana gerakan sebuah benda akan ditampilkan). Setelah tahu apa kebutuhan kita barulah bisa ditentukan parameter mana yang perlu disetting terlebih dahulu.
Jika ruang tajam adalah hal yang krusial bagi kebutuhan kamu seperti saat memotret landscape (dimana ruang tajam yang luas diperlukan) atau sebuah potret (di mana ruang tajam yang sempit dibutuhkan untuk mengaburkan background), maka setinglah aperture lebih dahulu.
Jika durasi eksposure yang lebih penting, maka setinglah shutter speed terlebih dahulu. Shutter speed tinggi (misal 1/1000 sec) bisa membekukan gerakan objek, sementara shutter speed yang lambat (misal 1/10 sec) membuat objek bergeak menjadi blur.

Lalu apa langkah selanjutnya ?
Sekali kamu sudah menentukan parameter utama, kamu bisa menseting parameter lainnya untuk mendapatkan eksposure yang sesuai. Meskipun kombinasi akan selalu berubah tergantug situasi, prinsip utamanya tetaplah sama: aperture kecil hanya membiarkan sedikit cahaya masuk melalui lensa sehingga membutuhkan shutter speed yang lebih lama/lambat agar cahaya lebih banyak masuk agar tercipta eksposure yang pas, aperture yang lebar membiarkan lebih banyak cahaya masuk sehingga shutter speed harus dipercepat agar tidak terlalu banyak cahaya masuk membanjiri sensor yang berakibat gambar terlalu terang.
Saat kamu mengatur parameter aperture dan shutter speed jangan lepaskan pandanganmu pada viewfinder – di sana terdapat indikator yang menunjukkan apakah objek yang sedang dibidik sudah terekspose dengan benar (neutral-mid tone), ataukah underexposed (lebih redup), atau overexposed (lebih terang). Kamu juga bisa merubah nilai ISO untuk menyesuaikan exposure.

                              Gambar 5  courtesy of www.jmpeltier.com



Indikator ekposure dalam jendela viewfinder

Sebelum kamu lanjut ke topik selanjutnya keluarkan kamera sekarang juga.
Praktekkan dan pahami dengan baik mode Av, Tv, dan M dan parameter yang mempengaruhi hasil pemotretan (ISO, shutter speed, aperture). 

Exposure Compensation (kompensasi eksposure)
Sebelum mengakhiri topik ini ada satu hal lagi yang perlu diketahui. Mode Av dan Tv disebut juga mode semi otomatis. Artinya sebagian parameter untuk menghasilkan exposure yang "pas" masih diserahkan secara otomatis kepada kamera untuk menghitungnya. Tentu saja tidak semua kondisi pemotretan bisa didekati dengan pendekatan yang seragam sehingga diperlukanlah penyesuaian melalui campur tangan fotografer. inilah yang dinamakan exposure compensation.
Berikut bebrapa contoh scene yang jika diserahkan kepada kamera secara bulat-bulat akan menghasilkan expose yang tidak tepat sehingga memerlukan koreksi.

Foto salju :



Salju pada gambar di atas mempunyai warna abu-abu. Hal ini disebabkan fotografer melakukan metering pada salju dan algoritma dalam kamera berusaha memposisikan tone salju menjadi 18% grey (mid tone) ditandai dengan histogram  yang mengumpul di tengah. Warna salju yang lebih tepat biasanya adalah dengan menggeser exposure compensation +2EV (exposure value) atau sering disebut + 2 stop. Beginilah kira-kira hasil gambarnya dan grafik histogramnya.



Terlihat warna salju putih seperti seharusnya.


Foto orang dengan kulit hitam :


Satu lagi contoh kasus kondisi  yang terkadang memerlukan exposure compensation yaitu memotret orang yang kulitnya hitam. Seperti prinsip metering yang ada di artikel Mengenal Metering Mode. Metering dalam kamera digital berusaha mengekspose segala sesuatu menjadi mid tone (18% grey). Itu artinya saat kita ingin memotret seseorang dengan warna kulit gelap dan melakukan metering terhadapnya, maka warna kulit akan ditarik ke tengah ke arah mid tone sehingga kadang-kadang warnanya berubah menjadi abu-abu dan tidak natural. Untuk kondisi seperti ini biasanya diperlukan kompensasi -1EV, atau negative 1 stop.


Cari tahu menu exposure compensation di dalam kameramu. Bentuknya sama dengan gambar indikator eksposure di bagian atas tulisan ini.


Kata Kunci

Eksposure, Overexposed, Underexposed, ISO, Aperture, Shutter speed, Aperture priority, Shutter priority, Manual exposure, DOF, Exposure Compensation





No comments:

Post a Comment